Perdagangan Manusia

Sebuah kelompok pemberontak di Republik Demokratis Kongo merekrut Natalia saat ia berusia 12 tahun: “Suatu hari, para pemberontak menyerang desa dimana saya tinggal. Saya bersembunyi dan melihat saat mereka membunuh keluarga saya dan memperkosa ibu serta saudara-saudara perempuan saya. Saya pikir jika saya bergabung dengan pasukan mereka, saya akan aman. Dalam pasukan tersebut saya dilatih untuk menggunakan senjata dan saya menjalankan tugas sebagai penjaga. Saya sering dipukuli dan diperkosa oleh para prajurit lain. Suatu hari seorang komandan ingin menjadikan saya istrinya, maka saya mencoba melarikan diri. Mereka menangkap saya, mencambuki saya dan memperkosa saya setiap malam selama berhari-hari. Saat saya baru berusia 14 tahun, saya melahirkan seorang bayi. Saya bahkan tidak mengetahui siapa ayahnya. Saya melarikan diri lagi tetapi saya tidak tahu harus pergi kemana dan tidak mempunyai makanan untuk bayi saya. Saya sangat takut untuk pulang ke rumah.”

Hal diatas adalah salah satu contoh bentuk perdagangan manusia. Sedangkan arti dari perdagangan manusia itu adalah segala transaksi jual beli terhadap manusia. Menurut Protokol Palermo pada ayat tiga definisi aktivitas transaksi meliputi:

  • perekrutan
  • pengiriman
  • pemindah-tanganan
  • penampungan atau penerimaan orang

Yang dilakukan dengan ancaman, atau penggunaan kekuatan atau bentuk-bentuk pemaksaan lainya, seperti:

  • penculikan
  • muslihat atau tipu daya
  • penyalahgunaan kekuasaan
  • penyalahgunaan posisi rawan
  • menggunakan pemberian atau penerimaan pembayaran (keuntungan) sehingga diperoleh persetujuan secara sadar (consent) dari orang yang memegang kontrol atas orang lainnya untuk tujuan eksploitasi.

Eksploitasi meliputi setidak-tidaknya; pelacuran (eksploitasi prostitusi) orang lain atau lainnya seperti kerja atau layanan paksa, pebudakan atau praktek-praktek serupa perbudakan, perhambaan atau pengambilan organ tubuh.

Dalam hal anak perdagangan anak yang dimaksud adalah setiap orang yang umurnya kurang dari 18 tahun.

Kita tidak dapat memahami tragedi Perdagangan Manusia, dan tidak pula dapat berhasil memberantasnya, kecuali jika kita mempelajari para korbannya: siapa mereka, mengapa mereka begitu rentan, bagaimana mereka dijebak, dan apakah yang  bisa dilakukan untuk membebaskan dan menyembuhkan mereka. Dalam menilai usaha-usaha pemerintah asing, Laporan PM menyoroti “tiga P” dari prosecution, protection dan prevention (penuntutan, perlindungan dan pencegahan). Tetapi suatu pendekatan yang terpusat pada korban Perdagangan mengharuskan kami menggunakan  “tiga R” – rescue, removal dan reintegragtion (penyelamatan, pemindahan, dan reintegrasi). Kita harus memperhatikan tangisan mereka yang tertangkap. Pekerjaan kami tidak akan berhenti Hingga semua negara bersatu untuk melawan kejahatan ini. Lebih dari 140 tahun yang lalu, Amerika Serikat berjuang melawan perang yang menghacurkan untuk membersihkan negara dari perbudakan, dan untuk mencegah mereka yang mendukung perbudakan memecah belah bangsa. Walaupun pada waktu itu kami berhasil menghapuskan praktek yang disetujui negara, perbudakan manusia telah kembali sebagai suatu ancaman global yang terus tumbuh bagi kehidupan dan kebebasan jutaan pria, wanita dan anak-anak.

Tidak ada negara yang kebal terhadap Perdagangan Manusia. Setiap tahunnya, diperkirakan 600.000 – 800.000 laki-laki, perempuan dan anak-anak diperdagangkan menyeberangi perbatasan-perbatasan internasional  (beberapa organisasi internasional dan organisasi swadaya masyarakat mengeluarkan angka yang jauh lebih tinggi), dan Perdagangan terus berkembang. Angka ini merupakan tambahan untuk angka lain yang jauh lebih tinggi yang belum  dapat dipastikan jumlahnya berkenaan dengan korban-korban  perdagangan manusia di dalam berbagai negara. Para korban dipaksa untuk bekerja pada tempat pelacuran, atau bekerja di tambang-tambang dan tempat kerja buruh berupah rendah, di tanah pertanian, sebagai pelayan rumah, sebagai prajurit di bawah umur dan, dalam banyak bentuk perbudakan di luar kemauan mereka. Pemerintah AS memperkirakan bahwa lebih dari separuh dari para korban yang diperdagangkan secara internasional diperjualbelikan untuk eksploitasi seksual.

Berjuta-juta korban diperdagangkan di dalam negaranya sendiri. Didorong oleh unsur-unsur kriminal, penderitaan ekonomi, pemerintahan yang korup, kekacauan sosial, ketidakstabilan politik, bencana alam, dan konflik bersenjata, perbudakan abad 21 menjawab kebutuhan dunia akan tenaga kerja yang murah dan rentan. Selain itu, keuntungan yang didapat dari perdagangan manusia mendanai sindikat kejahatan internasional, membantu perkembangan korupsi pemerintah, dan meruntuhkan peranan hukum. Amerika Serikat memperkirakan bahwa keuntungan dari Perdagangan Manusia merupakan salah satu dari tiga sumber pendapatan teratas bagi kejahatan terorganisir setelah perdagangan narkotika dan perdagangan senjata.

Perbudakan moderen  merupakan ancaman multidimensi bagi semua bangsa. Selain penderitaan individu akibat pelanggaran hak asasi manusia, keterkaitan antara perdagangan manusia dengan kejahatan terorganisir serta ancaman-ancaman keamanan yang sangat serius seperti perdagangan obat-obatan terlarang dan senjata, menjadi semakin  jelas. Begitu pula kaitannya dengan keprihatinan kesehatan masyarakat yang serius, karena banyak korbanmengidap penyakit, baik akibat kondisi hidup yang miskin maupun akibat dipaksa melakukan hubungan seks, dan diperdagangkan ke komunitas-komunitas baru. Sebuah negara yang memilih untuk mengebelakangkan masalah Perdagangan Manusianya membahayakan bangsanya sendiri. Tindakan cepat sangat dibutuhkan.

Apakah itu perdagangan Manusia?

Protokol Perserikatan Bangsa-bangsa untuk Mencegah, Menekan dan Menghukum Perdagangan Manusia, khususnya pada wanita dan Anak-anak (salah satu dari tiga “Protokol Palermo”), mendefinisikan Perdagangan Manusia sebagai:

Perekrutan, pengiriman, pemindahan, penampungan atau penerimaan seseorang, dengan ancaman atau penggunaan kekerasan atau bentuk-bentuk lain dari pemaksanaan, penculikan, penipuan, kebohongan, atau penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan atau memberi atau menerima pembayaran atau memperoleh keuntungan agar dapat memperoleh persetujuan dari seseorang yang berkuasa atas orang lain, untuk tujuan exploitasi. Exploitasi termasuk, paling tidak, exploitasi untuk melacurkan orang lain atau bentuk bentuk lain dari exploitasi seksual, kerja atau pelayanan paksa, perbudakan atau praktik-praktik serupa perbudakan, perhambaan atau pengambilan organ tubuh.

Banyak Negara   keliru dalam memahami definisi ini dengan melupakan perdagangan manusia dalam Negara atau menggolongkan migrasi tidak tetap sebagai perdagangan . TVPA menyebutkan “bentuk-bentuk perdagangan berat” didefinisikan sebagai:

A.    Perdagangan seks dimana tindakan seks komersial diberlakukan secara paksa, dengan cara penipuan, atau kebohongan, atau dimana seseorang diminta secara paksa melakukan suatu tindakan demikian belum mencapai usia 18 tahun; atau

B.    Merekrut,  menampung, mengangkut, menyediakan atau mendapatkan seseorang untuk bekerja atau memberikan pelayanan melalui  paksaan, penipuan, atau kekerasan untuk tujuan  penghambaan, peonasi, penjeratan hutang (ijon) atau perbudakan.

Dalam definisi-definisi ini, para korban tidak harus secara fisik diangkut dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Definisi ini juga secara jelas berlaku pada tindakan merekrut, menampung, menyediakan, atau mendapatkan seseorang untuk maksud-maksud tertentu.

Apakah Korban Manusia dan Sosial akibat perdagangan manusia?

Para korban Perdagangan Manusia mengalami banyak hal yang mengerikan.  Luka fisik dan psikologis, termasuk penyakit dan pertumbuhan yang terhambat, seringkali meninggalkan pengaruh permanen yang mengasingkan para korban  dari keluarga dan masyarakat mereka. Para korban Perdagangan Manusia seringkali kehilangan kesempatan penting mereka untuk mengalami perkembangan sosial, moral, dan spiritual. Dalam banyak kasus eksploitasi pada korban Perdagangan Manusia terus meningkat: seorang anak yang diperjualbelikan dari satu kerja paksa dapat terus diperlakukan dengan kejam di tempat lain. Di Nepal, para anak gadis yang direkrut untuk bekerja di pabrik-pabrik karpet, hotel-hotel, dan restoran kemudian dipaksa untuk bekerja di industri seks di India. Di Filipina dan banyak negara lain, anak-anak yang awalnya berimigrasi atau direkrut untuk hotel dan industri pariwisata, seringkali berakhir dengan terjebak di dalam rumah-rumah pelacuran. Suatu kenyataan kejam mengenai perdagangan budak moderen adalah para korbannya  seringkali dibawa dan dijual.

Sebagai contoh:

Tina, seorang anak berusia belasan tahun dari desa pedalaman Indonesia, berhutang ratusan dolar untuk selama empat bulan mengikuti pelatihan pembantu rumah tangga dan tinggal selama lebih dari empat bulan di sebuah pusat tenaga kerja Indonesia. Dari sana, Tina, seperti kebanyakan gadis Indonesia lainnya, diangkut ke Malaysia dengan keyakinan akan bekerja sebagai  pembantu rumah tangga bagi pasangan Malaysia. Dipaksa untuk bekerja hingga 15 jam sehari dalam bisnis keluarga dimana ia tidur di lantai, Tina diberitahu bahwa gajinya akan ditahan hingga ia menyelesaikan dua tahun kontraknya. Setelah berkali-kali diperlakukan dengan kejam secara fisik, ia mencari tempat perlindungan di penampungan korban milik LSM Malaysia. Tina telah  melaporkan kasusnya kepada polisi  dan dia telah diberi perpanjangan visa imigrasi supaya   dapat melanjutkan  kasusnya melawan majikannya di Malaysia.

Para korban yang dipaksa dalam perbudakan seks seringkali  dibius dengan obat-obatan dan menderita kekerasan yang luar biasa. Para korban yang diperjualbelikan untuk eksploitasi seksual menderita cedera fisik dan emosional akibat kegiatan seksual yang belum waktunya, diperlakukan dengan kasar, dan menderita penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seks termasuk HIV/AIDS. Beberapa korban menderita cedera permanen pada organ reproduksi mereka. Selain itu, korban biasanya diperdagangkan di lokasi yang bahasanya tidak mereka pahami, yang menambah cedera psikologis akibat isolasi dan dominasi. Ironisnya, kemampuan manusia untuk menahan penderitaan yang amat buruk dan terampasnya hak-hak mereka malah membuat banyak korban yang dijebak terus bekerja sambil berharap akhirnya mendapatkan kebebasan.

Perdagangan Manusia adalah Pelanggaran Hak Asasi Manusia, Pada dasarnya, Perdagangan Manusia melanggar hak asasi universal manusia untuk hidup, merdeka, dan bebas dari semua bentuk perbudakan. Perdagangan anak-anak merusak kebutuhan dasar seorang anak untuk tumbuh dalam lingkungan yang aman dan merusak hak anak untuk bebas dari kekerasan dan eksploitasi seksual.


Fakta mengenai Pariwisata Seks Anak

Eksploitasi seks komersial terhadap anak-anak mempengaruhi jutaan anak setiap tahunnya di banyak negara . Salah satu bentuk dari eksploitasi ini adalah fenomena yang terus meningkat mengenai Pariwisata Seks Anak (CST – Child Sex Tourism). Orang yang melakukan perjalanan dari negaranya ke negara lain untuk melakukan seks komersial dengan seorang anak berarti melakukan CST. Kejahatan semakin meningkat didukung oleh pelaksanaan hukum yang lemah, Internet, kesenangan perjalanan dan kemiskinan.

Para turis yang terlibat dengan CST biasanya melakukan perjalanan dari negara asal mereka ke negara-negara berkembang. Turis-turis seks dari Jepang misalnya, melakukan perjalanan ke Thailand, dan yang dari Amerika cenderung melakukan perjalanan ke Meksiko atau Amerika Tengah. “Para Pelaku Kekejaman Situasional” ini tidak dengan sengaja melakukan perjalanan untuk mencari seks dengan seorang anak tetapi mengambil keuntungan dari anak-anak secara seksual begitu mereka berada di suatu negara. “Para Pelaku Kekejaman Seks Yang Menyukai Anak-anak” atau fedofilia melakukan perjalanan untuk maksud mengeksploitasi anak-anak.

Sebagai jawaban dari fenomena pertumbuhan CST, organisasi antar pemerintah, industri pariwisata dan pemerintah telah membicarakan masalah tersebut. Kongres Dunia Melawan Eksploitasi Seksual Komersial yang diadakan di Stockholm dan Yokohama pada tahun 1996 dan 2001, menggambarkan perhatian internasional yang signifikan pada masalah tersebut. Organisasi Pariwisata Dunia membuat sebuah gugus tugas untuk memerangi CST dan menyebarluaskan Kitab Undang-undang Dunia mengenai Tingkah Laku untuk Pariwisata pada tahun 1999. Selama lima tahun terakhir, terdapat peningkatan di dunia internasional dalam hal pengajuan tuntutan atas pelanggaran pariwisata seks. Saat ini, 32 negara memiliki undang-undang ekstrateritorial yang mengijinkan penuntutan warga negara mereka untuk kejahatan yang dilakukan di luar negeri, tanpa memperhatikan apakah pelanggaran tersebut dapat dikenakan hukuman di negara dimana kejahatan itu terjadi atau tidak.

Beberapa negara telah mengambil langkah-langkah yang patut dihargai untuk melawan pariwisata seks anak. Misalnya, Kementrian Pendidikan Perancis bersama dengan perwakilan industri perjalanan membuat garis-garis besar mengenai CST untuk kurikulum sekolah pariwisata, dan Maskapai udara milik negara Perancis juga mengalokasikan bagian dari keuntungan penjualan mainan saat penerbangan untuk mendanai program-program kesadaran masyarakat terhadap CST. Brazil  meluncurkan kampanye kesadaran nasional dan internasional mengenai pariwisata seks. Itali mengharuskan para penyelenggara tur untuk memberikan informasi yang berkenaan dengan undang-undang ekstra teritorialnya mengenai pelanggaran seks anak, dan hampir setiap penyelenggara tur Swedia telah menandatangani sebuah kitab undang-undang perilaku yang menyetujui pemberian pendidikan kepada para staf mengenai CST. Kamboja membentuk unit-unit kepolisian yang terfokus untuk memerangi pariwisata seks anak dan telah menahan dan mengekstradisi fedofilia asing. Jepang menuntut warga negaranya yang tertangkap melakukan seks dengan anak-anak di negara lain.

Amerika Serikat memperkuat kemampuannya untuk memerangi pariwisata seks anak tahun lalu melalui bagian dari Undang-undang Reotorisasi Perlindungan Korban Perdagangan dan Undang-undang PERLINDUNGAN. Bersama-sama, undang-undang ini meningkatkan kesadaran melalui pengembangan dan penyebaran informasi mengenai CST serta meningkatkan hukuman penjara hinga 30 tahun untuk pariwisata seks anak. Dalam delapan bulan pertama “Predator Operasi” (suatu prakarsa untuk memerangi eksploitasi anak, pornografi anak, dan pariwisata seks anak 2003), pihak berwenang hukum AS menahan 25 warga Amerika yang melakukan pelanggaran pariwisata seks anak. Secara keseluruhan, komunitas dunia dibangunkan oleh masalah yang mengerikan mengenai pariwisata seks anak dan mulai mengambil langkah-langkah awal yang penting.

Apakah Perbedaan Antara Perdagangan Manusia Dengan Penyelundupan Manusia?

Perbedaan antara penyelundupan manusia dengan Perdagangan Manusia bisa membingungkan. Kebingungan ini bisa menyulitkan dalam mendapatkan informasi yang akurat, khususnya dari negara-negara transit. Perdagangan manusia seringkali, tapi tidak selalu, melibatkan penyelundupan; korban pada awalnya setuju untuk diangkut di dalam sebuah negara atau melintasi perbatasan. Yang membedakan antara dua kegiatan seringkali memerlukan informasi yang terinci mengenai keadaan akhir para korban.

Penyelundupan pada umumnya dipahami sebagai pengadaan atau pengangkutan manusia untuk mendapatkan keuntungan untuk masuk secara ilegal ke dalam sebuah negara. Tetapi menyediakan fasilitas untuk masuk atau melintasi sebuah negara secara ilegal, secara tersendiri, bukanlah perdagangan manusia, walaupun seringkali dilaksanakan dalam keadaan yang berbahaya. Penyelundupan seringkali melibatkan para migran yang telah setuju dengan kegiatan tersebut. Sementara itu, perdagangan manusia, bisa tanpa persetujuan mereka atau kalaupun korban pada awalnya sudah memberi persetujuan, persetujuan mereka telah ditiadakan karena   pemaksaan, penipuan, atau tidakan kejam dari pada pelaku perdagangan. Korban perdagangan manusia seringkali tidak menyadari bahwa mereka akan dipaksa melakukan prostitusi atau mengalami situasi kerja paksa yang bersifat eksploitasi. Karena itu, penyelundupan bisa menjadi perdagangan ilegal. Komponen kunci yang membedakan perdagangan dengan penyelundupan adalah unsur kecurangan, penipuan, atau pemaksaan.

Tidak seperti penyelundupan, perdagangan manusia dapat terjadi baik korban dipindahkan di dalam negeri atau ke luar negeri.  Menurut TVPA, tidak penting apakah korban telah diangkut ke suatu situasi eksploitasi untuk suatu bentuk perdagangan manusia keji terjadi atau tidak. Sudah cukup untuk menjelaskan bahwa seseorang adalah korban Jika dia direkrut, ditampung, disediakan, atau diperoleh “untuk bekerja atau melayani secara paksa, melalui penggunaan kecurangan, penipuan atau pemaksaan untuk tujuan-tujuan penghambaan, peonasi,  penjeratan hutang (ijon), atau perbudakan.”

Mudah-mudahan segala bentuk perdagangan Ilegal di Indonesia bisa segera diselesaikan, mengingat manusia adalah ciptaan Tuhan bukan sebagai alat perdagangan.


Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.